Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)
Sahabatku,
Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.
Sahabatku,
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"
Sahabatku,
Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
Sahabatku,
Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"
"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!
Sahabat-sahabat sekalian,
Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.
(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)
Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.
Sahabatku,
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"
Sahabatku,
Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
Sahabatku,
Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"
"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"
Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!
Sahabat-sahabat sekalian,
Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.
(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)

Ada sebuah kata bijak yang menyatakan, “Shoot the star, i know you arrow will not reach the star... but your arrow will fly higher awat rather than if you shoot at the same level of your self ”.
“Tembaklah bintang, saya tahu anak panah kamu takkan ampu mencapai bintang, tapi anak pamah kamu akan terbang lebih tinggi dibanding kamu menembak sejajar dengan diri kamu”.
Sahabatku, apa makna dari kata-kata diatas? Maknanya adalah, bercita-citalah setinggi langit, jangan hanya setengah-setengah. Walaupun sulit untuk meraih cita-citamu itu, namun pabila kamu mempunyai cita-cita tinggi insya Allah hasil yang kamu perleh akan lebih baik, dibandingkan kamu hanya bercita-cita biasa saja.
“Tembaklah bintang, saya tahu anak panah kamu takkan ampu mencapai bintang, tapi anak pamah kamu akan terbang lebih tinggi dibanding kamu menembak sejajar dengan diri kamu”.
Sahabatku, apa makna dari kata-kata diatas? Maknanya adalah, bercita-citalah setinggi langit, jangan hanya setengah-setengah. Walaupun sulit untuk meraih cita-citamu itu, namun pabila kamu mempunyai cita-cita tinggi insya Allah hasil yang kamu perleh akan lebih baik, dibandingkan kamu hanya bercita-cita biasa saja.
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)

Sesungguhnya sedekah yang paling murah adalah senyuman, senyuman tulus yang berasal dari hati akan langsung jatuh ke hati yang memandang. Dengan kemurnian dan ketulusan senyuman, dunia serasa dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran indah, langit seakan ikut terbawa suasana ceria dan bumi seakan menari dengan putaran rotasi yang begitu gemulai. Namun sebaliknya senyuman yang bukan berasal dari hati atau senyuman yang hanya sebuah formalitas dan basa-basi belaka hanya akan teerlihat indah dipermukaannya saja namun seperti fatamorgana di gurun tandus dan kering.
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)
a. Buka Ms.Office Publiasher
b. Kemudian Pilih Getting Started, setelah itu pilih Flyers Publication Type dan click

c. Setelah itu pilih design/template yang diinginkan pada Jenis Event untuk design poster, kemudian click, sebagai contoh saya pilih template party 2
d. Setelah itu Edit halaman Poster sesuai yang diinginkan
e. Kemudian pilih File pada menu bar dan pilih Print Preview untuk melihat tampilan design poster yang kita buat.
b. Kemudian Pilih Getting Started, setelah itu pilih Flyers Publication Type dan click

c. Setelah itu pilih design/template yang diinginkan pada Jenis Event untuk design poster, kemudian click, sebagai contoh saya pilih template party 2
d. Setelah itu Edit halaman Poster sesuai yang diinginkane. Kemudian pilih File pada menu bar dan pilih Print Preview untuk melihat tampilan design poster yang kita buat.
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)
a. Buka Ms.Office Publiasher
b. Kemudian Pilih Getting Started, setelah itu pilih Web Site Publication Type dan click
c. Kemudian pilih design web yang diinginkan, kemudian di click
d. Setelah itu muncul jendela Easy Web Site Builder

e. Kemudian pilih content web site yang diinginkan, pada jendela Easy Web Site Builder. Dan centang content web site yang diinginkan. Contohnya saya mencentang content:
1. Tell Custumer about my business
2. Tell Customer how to contact us
3. Display a calendar or schedule
4. Display Employee information

f. Kemudian isi data web sesuai dengan keinginan, sesuai dengan content masing-masing
g. Untuk mengubah Nama content dengan cara click kanan halaman/angka halaman kemudian pilih rename.sesuai dengan gambar berikut.

h. Kemudian akan muncul jendela web page option, kemudian Editlah Nama Web Tiitle pada jendela tersebut sesuai yang diinginkan
i. Kemudian untuk menambahkan halaman maka click kanan angka halaman (sesuai cara bagian g) kemudian pilih insert page.
j. Setelah itu muncul jendela Insert Web Page kemudian pilih content yang diinginkan.
k. Dan untuk menghapus halaman maka click kanan angka halaman (sesuai cara bagian g) kemudian pilih delete page, dan pilih Yes
l. Setelah itu design dan editlah data pada tiap halaman sesuia dengan web site yang akan kita buat.
m. Setelah selesai mendesign dan mengisi/mengedit data tiap halaman dan untuk melihat hasilnya, maka pilih File pada menu bar dan pilih Web Page Preview
n. Selamat Mencoba
b. Kemudian Pilih Getting Started, setelah itu pilih Web Site Publication Type dan click
c. Kemudian pilih design web yang diinginkan, kemudian di click
d. Setelah itu muncul jendela Easy Web Site Builder

e. Kemudian pilih content web site yang diinginkan, pada jendela Easy Web Site Builder. Dan centang content web site yang diinginkan. Contohnya saya mencentang content:
1. Tell Custumer about my business
2. Tell Customer how to contact us
3. Display a calendar or schedule
4. Display Employee information

f. Kemudian isi data web sesuai dengan keinginan, sesuai dengan content masing-masing
g. Untuk mengubah Nama content dengan cara click kanan halaman/angka halaman kemudian pilih rename.sesuai dengan gambar berikut.

h. Kemudian akan muncul jendela web page option, kemudian Editlah Nama Web Tiitle pada jendela tersebut sesuai yang diinginkan
i. Kemudian untuk menambahkan halaman maka click kanan angka halaman (sesuai cara bagian g) kemudian pilih insert page.
j. Setelah itu muncul jendela Insert Web Page kemudian pilih content yang diinginkan.
k. Dan untuk menghapus halaman maka click kanan angka halaman (sesuai cara bagian g) kemudian pilih delete page, dan pilih Yes
l. Setelah itu design dan editlah data pada tiap halaman sesuia dengan web site yang akan kita buat.
m. Setelah selesai mendesign dan mengisi/mengedit data tiap halaman dan untuk melihat hasilnya, maka pilih File pada menu bar dan pilih Web Page Preview
n. Selamat Mencoba
Diposkan oleh
Munawir Mukhtar's Blog
komentar (0)
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Ini adalah langkah-langkah dalam pembuatan account blog pada blogger,, semoga bermanfaat bagi teman-teman semua....Amin
a. Tentunya anda harus berkunjung dulu ke www.blogger.com/start dulu
b. Kemudian klik tanda panah yang bertuliskan “BUAT BLOG”
c. Isi data yang diminta pada form yang sudah disediakan.(Sebaiknya,anda memakai email dari google alias gmail).Setelah itu,jangan lupa mencentang tulisan “Saya menerima persyaratan dan pelayanan” lalu mengklik tanda panah “LANJUTKAN

(Nb:Kalau belum memiliki account email dari google,anda bisa membuatnya gratis di www.gmail.com)
d. Sekarang,anda tinggal memilih alamat URL blog anda seperti yang anda lihat pada gambar dibawah. Lalu periksa ketersediaan untuk memastikan belum ada orang lain yang memakai alamat blog tersebut.Ini adalah langkah-langkah dalam pembuatan account blog pada blogger,, semoga bermanfaat bagi teman-teman semua....Amin
a. Tentunya anda harus berkunjung dulu ke www.blogger.com/start dulu
b. Kemudian klik tanda panah yang bertuliskan “BUAT BLOG”
c. Isi data yang diminta pada form yang sudah disediakan.(Sebaiknya,anda memakai email dari google alias gmail).Setelah itu,jangan lupa mencentang tulisan “Saya menerima persyaratan dan pelayanan” lalu mengklik tanda panah “LANJUTKAN
(Nb:Kalau belum memiliki account email dari google,anda bisa membuatnya gratis di www.gmail.com)

e. Setelah mendapatkan nama blog yang tepat,langkah berikutnya adalah memilih template sesuai yang diinginkan
f. Masukkan sebuah judul untuk blog anda,lalu Klik tanda panah LANJUTKAN.
g. Selesai..!! kini blog anda sudah jadi.
h. Selanjutnya,anda sudah bisa memuat sebuah post.Jika anda bingung,anda bisa memulai nya dengan postingan yang berisi ucapan selamat datang terlebih dahulu sebagai posting perdana di dalam blog anda....
SELAMAT MENCOBA..........^^
