Pages

DOKTERKU, HARAPANKU……

Dokter …………, mendengar kata ini, pikiran kita akan membayangkan suasana ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Diruangan itu, terdengar jerit tangis anak balita yang takut oleh suntikan dokter, ada juga seorang wanita paru baya yang tubuhnya berlumuran darah karena baru saja mendapat tusukan dari suaminya yang cemburuan. Dipojok ruangan itu terlihat seorang pemuda yang kepalanya penuh dengan perban. Pemuda itu ternyata seorang yang gugur dalam medan perang. Dan adapula dua orang mahasisiwa yang tergeletak tidak berdaya di atas ranjang salah satu diantaranya baru saja terkena lemparan batu oleh sesama m ahasiswa ketika sedang tawuran. Yang satunya lagi terluka di bagian kakinya akibat tembakan dari pak polisi karena ternyata pemuda ini telah berbuat anarkis dengan membakar ban di depan gedung DPR sambil berorasi menuntut pemerintah untuk melaksanakan berbagai macam kebijakan. Dan yang lebih menyedihkan lagi di dekat jendela ruangan itu terlihat seorang bayi yang baru berusia 7 bulan yang terlihat kurus kering karena mengalami kekurangan gizi padahal anak kecil itu adalah generasi penerus bangsa, yang nantinya akan melanjutkan cita-cita negeri ini. Inilah potret beberapa kasus diantara sekian banyak kasus yang terjadi di negeri yang tercinta ini. Marilah kita berpikir sejenak, bayangkan seandainya kita berada di dalam ruangan seperi itu. Tentunya kita akan merasa jijik, ngeri, takut, atau bahkan ingin muntah. Tapi, bagi seorang dokter, hal itu merupakan pemandangan yang biasa saja bahkan para dokterlah yang nantinya akan menolong mereka, yang akan menyelamatkan nyawa mereka. Jika seandainya tidak ada seorang dokter, bagaimana nasib mereka selanjutnya? Bagaimana??? Tentunya keadaan mereka pasti akan menjadi lebih buruk. Kalau hal itu terjadi, bagaimana dengan nasib seorang bayi yang ada di dalam ruangan itu? Apakah bayi itu akan terus seperti itu? Kurus kering, wajah murung, dan tidak berdaya? Lalu, siapa yang akan menjadi generasi penerus bangsa? Yang akan melanjutkan cita-cita bangsa yang belum terwujud sampai saat ini. Jika kita berpikir secara rasional, sangat mustahil rasanya apabila tidak ada seorang sosok penyembuh bangsa, seorang yang tulus dan ikhlas untuk menolong sesama manusia, seorang yang memanfaatkan seluruh kemampuan yang ia miliki untuk menyelamatkan nyawa manusia. Ia adalah seorang sosok yang rela dan ikhlas menolong setiap orang yang sakit,cedera ataupun sakit, Dimana ia adalah seorang sosok pahlawan bangsa yang memegang tanggungjawab yang besar guna untuk menyembuhkan sakit, derita, bahkan luka masyarakat.Yang rela berpisah dengan sanak keluarganya hanya untuk menjadi tenaga kesehatan di sebuah daerah yang kecil dan sepi. Dialah seorang “DOKTER” seorang sosok yang tidak akan pernah tergantikan jasanya.

Melihat hal itu, pantaskah seorang penyembuh bangsa, seorang penolong umat manusia dikatakan hanya sebatas kenangan? Jawabannya tentunya sangat tidak pantas!!! Malah sebaliknya, dokter adalah harapan bangsa, harapan seluruh umat manusia yang akan membangun negri kita yang tercinta ini. Seorang dokter laksana sel darah merah yang kita tahu bentuknya sangat kecil yang ukurannnya hanya seper sekian juta dari ukuran tubuh kita, tapi ia dapat mengantarkan gas oksigen keseluruh jaringan tubuh, sehingga kita bisa tetap hidup dengan nyaman sampai saat ini. Begitu pula dengan dokter, mereka hanyalah segelintir orang yang mengenakan “jas putih” namun, mereka mampu menyelamatkan jiwa seluruh umat manusia dan secara tidak lansung mampu untuk membangun bangsa yang sangat kita cintai ini. Mereka adalah harapan bangsa, yang tanpa mereka kita tidak akan pernah melihat canda tawa anak Indonesia yang sedang bermain. Selain itu, kita tidak akan pernah melihat anak-anak tersebut mampu untuk membanggakan Indonesia di mata dunia,

Dokter merupakan harapan bangsa, yang tanpa mereka bangsa kita, bangsa Indonesia hanyalah sebuah kenangan belaka.Dokter merupakan profesi yang sangat mulia. Ia tidak hanya menyembuhkan orang sakit, tapi ia juga adalah seorang sosok yang dapat memberikan ketengan lahir dan batin pasiennya. Ia memberi semangat pasien yang terbaring tak berdaya dengan senyumannya yang penuh makna.Untuk bangsa , ia rela berkorban demi sesorang yang membutuhkan tenaganya walaupun ia harus bangun di malam hari hanya demi pasiennya yang menjerit kesakitan membutuhkan bantuannya. Coba kita bayangkan bagaimana penyakit masyarakat yang sering menimpa bangsa kita ini dengan berbagai penyakit.yang mengakibatkankan banyaknya penerus generasi bangsa yang gugur.Hadirnya seorang dokter yang mampu memberikan pengobatan semampunya untuk kesehatan pasiennya memberikan harapan terhadap bangsa kita untuk terus mencetak seorang dokter yang tulus ikhlas membantu sesama manusia.

Menjadi dokter memang merupakan impian seluruh umat, profesi penyembuh tersebut dipandang sebagai profesi yang mulia karena membantu langsung manusia yang sedang mengalami masalah kesehatan, tanpa memandang latar belakang budaya, agama dan kondisi ekonomi pasiennya. Dokter memiliki banyak keistimewaan baik untuk urusan duniawi yang bukan hanya berupa penghasilan dan kepintaran, tetapi juga mempunyai niat tulus dan ikhlas untuk membantu sesame manusia, menjadi dokter juga memiliki keistimewaan untuk urusan akhirat, yang berupa amal yang kita lakukan dalam membantu dan menyelamatkan seseorang yang sedang sakit yang sedang tergeletak di rumah sakit. Akan tetapi untuk menjadi seorang dokter bukanlah suatu hal yang sangat mudah untuk di dapatkan, apalagi bagi orang yang berada di bawah garis kemiskinan.Kita harus mengeluarkan berjuta-juta uang untuk dapat memasuki pendidikan kedokteran.

Cobalah kita membuka kembali lembaran sejaarah tentang besarnya peranan dokter dalam perjuangan kemerdekaan. Mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk bersatu sampai berjuang mencapai kemerdekaan, peran dokter cukup menonjol. Kita tentu teringat pada jasa dr Sutomo, dr Ciptomangunkusumo, dr Rajiman, dan lain-lain. Saya juga pernah membaca kepahlawanan dr Mochtar yang rela dihukum mati Jepang guna melindungi anak buahnya.

Namun,sekarang tampaknya citra dokter sebagai pejuang dan pembela masyarakat lemah berkurang. Dokter sekarang terkesan lebih komersial. Seolah-olah dokter sama saja dengan pekerjaan lain, menjual jasa dalam melayani orang sakit. Masyarakat harus membayar jasa tersebut sehingga kurang merasa ditolong. Apalagi jasa dokter umumnya mahal, jauh dari jangkauan kemampuan masyarakat, terutama masyarakat yang sedang berada di bawah garis kemiskinan. Akibatnya, banyak orang sakit yang diam saja di rumah atau membeli obat bebas. Mereka tak lagi berharap dapat ditolong dokter dengan tulus secara cuma-cuma.Kemudian masih adakah orang yang dapat diharapkan sebagai sosok penyembuh bangsa yang benar-benar ikhlas membantu sesama manusia?

Kini, dokter hanya menjadi mimpi yang ada dalam dunia di balik tidur kita tiap malamnya. Dan ketika kita terbangun di pagi hari, hanya embun pagi yang terlihat membasahi dedaunan. Hanya tinggal asa atau harapan semu. Orang menjadikan profesi dokter bukan lagi sebagai cita-cita yang diagung-agungkan. Tetapi, orang menggapai profesi itu karena ambisi belaka. Ambisi untuk memperoleh popularitas semata, kedudukan yang diidam-idamkan semua insan. Untuk mengobati pasien, mereka harus dibayar dulu kemudian menjalankan tugasnya.

Ada dua pilihan ketika kita ingin menjadi yaitu menolong dan juga mendapatkan uang. Kebutuhan menolong demi kemanusiaan adalah fitrah manusia yang hakiki. Baik itu seorang dokter atau bukan, tapi memang telah diakui bahwa dokter atau ahli medis lainnya memiliki bagian penting dan mendapatkan kesempatan besar dalam rangka kemanusiaan tersebut. Adapun memperoleh materi juga suatu imbalan layak bagi seorang dokter untuk sebuah penghargaan atas ilmu yang dimilikinya, apalagi dipacu juga dengan pengorbanannya dalam mendapatkan ilmu kedokteran yang relatif mahal. Tapi menjadi salah jika pada akhirnya seorang dokter menjadikan pasien sebagai ajang ‘balas dendam’ sekaligus ‘aji mumpung’ untuk menggantikan modal yang sudah dikeluarkannya selama masa pendidikan. Istilah itu mungkin terlalu kasar atau terkesan blak-blakkan (terang-terangan), tapi coba renugi lagi fikiran polos seperti itu, sadar atau tidak hati kita mengakuinya.

Maraknya penyebaran penyakit pada masyarakat kita, mengindikasikan rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan. Padahal kesehatan merupakan kebutuhan primer setiap manusia. Ternyata fakta yang tidak bisa ditolerir adalah tingginya sebuah harga yang harus dipenuhi oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan perlindungan kesehatan. Lagi-lagi menjadi sebuah bukti, belum lama ini pihak institusi kesehatan telah memperlihatkan adanya ketidakadilan tentang pelayanan kesehatan di Indonesia. Itu hanya beberapa saja yang terekspos, mungkin sudah banyak terjadi kasus-kasus yang tidak jauh berbeda seperti itu di pusat-pusat pelayan kesehatan atau pelayanan praktek dokter swasta yang cenderung diskriminatif dan mengesampingkan aspek kemanusiaan.

Kenapa pengabdian dokter kini dirasakan kurang? Apakah mahalnya pendidikan dokter menyebabkan dokter yang dihasilkan menjadi komersial? Mungkinkah dokter kembali menjadi dokter rakyat, yang dekat dan hidup bersama masyarakat miskin?

Saya rasa para dokter perlu merenung dalam mengisi kemerdekaan. Semangat dokter pejuang dahulu harus terus dilanjutkan. Dokter sekarang harus berjuang mengangkat derajat kesehatan masyarakat dan tidak hanya berupaya mengumpulkan kekayaan. Masyarakat kita mendambakan dokter yang bersedia menolong orang miskin dan mereka yang tak beruntung. Alangkah janggalnya jika setelah merdeka lebih sulit mencari layanan kesehatan daripada zaman penjajahan dulu.

Dokter-dokter masa depan diharap bisa sangat merenugi dan memberikan kepedulian lebih terhadap masalah dia atas. Kita tidak akan bisa memilih salah satu diantara kedua pilihan tersebut, karena pada prinsipnya keduanya adalah kebutuhan mendasar. Maka oleh karena itu, kita harus bisa menemukan langkah-langkah agar kedua pilihan itu bisa dijalankan secara beriringan. Kuncinya adalah memperhatikan equilibrium dari masing-masing kebutuhan. Kewajiban kita menolong bagi kemanusiaan bisa terpenuhi, dan hak mendapatkan penghargaan atas keahlian juga didapatkan. Selanjutnya harus tahu mana yang harus lebih dulu diutamakan. Harapan dokter masa depan hendaknya bisa menciptakan fitur-fitur baru dalam pelayanan kesehatan, misalnya pendekatan klinis melalui religi-teknologi. Kedua hal tersebut dapat diorientasikan menjadi modal kemampuan dasar untuk bisa mengamalkan ilmu kedokteran setelah kita tampil menjadi seorang dokter.

Dokter penyembuh bangsa, adalah sosok yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita yang akan menjadi sebuah harapan yang kelak akan memajukan negri kita yang tercinta ini. Kekurangan yang saat ini dialami bangsa kita marilah kita jadikan sebagai suatu pelajaran untuk kedepannya, sehingga menjadi sebuah harapan yang lebih baik dari sebelumnya. Dan keberhasilan yang telah diraih oleh para dokter sebelumnya, marilah kita jadikan sebagai suatu motivasi untuk menggapai cita-cita bangsa kita.Sehingga bangsa kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.Amiiiin.

Tidak ada komentar: